1 Kesalahan Investasi Saya Yang Patut Anda Hindari

1 Kesalahan Investasi Saya Yang Patut Anda Hindari

Artikel kali ini mengingatkan saya terhadap cerita menarik mengenai ayah dan anak bayinya. Saat itu lampu di rumah mereka sedang padam, maka dari itu si ayah menyalakan lilin untuk menerangi ruangan. Lilin menyala yang berada di lantai ternyata menarik perhatian si anak bayi. Bayi itu pun terus merangkak mendekati lilin dan si ayah mengamati tingkah laku si bayi. Ketika si bayi mencoba untuk memegang api lilin, ayah pun menahan tangan si bayi dan berkata “Jangan nak, itu panas!” Si bayi pun dipindahkan ke tempat lebih jauh. Si bayi yang belum mengerti apa arti kata panas kembali mendekati dan mencoba memegang api lilin. Ayah pun terpaksa menahan kembali tangan si bayi. Ketiga kali hal ini berulang, si bayi akhirnya merasa kesal dan menangis. Si ayah pun kemudian memilih untuk melepas tangan si bayi. Merasa menang, si bayi berhenti menangis dan menyentuh api lilin. Si bayi pun kaget dengan panasnya api dan segera menjauhi lilin tersebut. Si bayi sekarang menjadi jera dan mengerti arti kata panas.

Kesalahan investasi yang pernah saya lakukan ini bukanlah sesuatu yang saya tidak ketahui sebelumnya. Saya tahu itu salah, tetapi tetap saya lakukan. Apakah kesalahan itu? Simak cerita selengkapnya!

 

Membeli Kucing Dalam Karung

Longcheer (LHL) menjual sebuah anak perusahaan mereka dan mengumumkan akan memberikan sebagian hasil penjualan tersebut berupa dividen spesial sebesar $0.70 per saham. Ketika saya cek, harga saham LHL saat itu sekitar $1.10. Berarti dividen spesial yang akan diberikan bernilai lebih dari 60% dari harga saham saat itu. Saya kemudian melihat pergerakan harga saham LHL selama 3 tahun terakhir. Kita bisa melihat bahwa saham LHL sempat stagnan di level $0.80 sebelum terjadi rally ke level $1.10 saat itu. Saya kemudian berpikir, jika saya membeli saham LHL dan menunggu hingga tanggal ex-dividend lalu menjualnya (jika anda menjual saham anda di tanggal ini, anda tetap akan mendapatkan dividen dari saham tersebut), meskipun harga saham ketika saya jual akan jatuh, saya berasumsi bahwa saham akan jatuh maksimal ke level $0.80. Berdasarkan asumsi saya tersebut, saya akan mendapatkan keuntungan minimal ($0.70+$0.8-$1.10)/$1.10 = 36% dalam waktu singkat. Saya pun kemudian membeli saham LHL di harga $1.10.

Jika anda perhatikan, semua pengamatan yang saya lakukan semuanya terfokus pada harga saham. Yang saya tahu tentang LHL hanyalah perusahaan ini adalah penjual smartphone. Seberapa penting anak perusahaan yang mereka jual terhadap pendapatan total LHL, seberapa menguntungkan perusahaan LHL selama ini dan informasi fundamental lainnya, saya tidak mencari tahu. Saya tersilaukan dengan besarnya dividen yang akan dibagikan ke investor.

Sejak tanggal saya membeli saham itu hingga tanggal sebelum ex-dividend, harga saham cukup stabil bahkan sempat naik menyentuh level $1.20. Tiba hari ex-dividend, saya pun mengirim order untuk menjual saham LHL di level $1.00. Hingga tengah hari saya belum mendapatkan sms bahwa saham saya sudah terjual. Ketika saya cek, harga saham LHL telah jatuh ke level $0.42. Saya pun panik melihat itu. Kepanikan ini muncul dari ketidaktahuan saya tentang apa yang harus saya lakukan karena saya tidak mengenal perusahaan yang saya beli. Lain halnya, ketika harga saham Cordlife jatuh, saya tidak panik malah justru membeli lagi, karena saya tahu dengan jelas apa yang terjadi. Jatuhnya harga saham LHL secara signifikan ini tentunya menunjukkan opini publik investor yang menganggap LHL tanpa anak perusahaannya tidak lagi bernilai seperti sebelumnya. Saya akhirnya menjual saham itu di harga $0.43. Ditambah dengan dividen spesial $0.70, saya hanya mendapatkan profit ($0.43+$0.7-$1.10)/$1.10 = 2.7%, jauh dari prediksi awal saya.

Meskipun dalam situasi ini saya masih meraih profit, namun di situasi lain, sikap “membeli kucing dalam karung” ini berpotensi mendatangkan kerugian yang besar. Maka dari itu, sahabat investor, anda sebaiknya percaya betapa panasnya “api lilin” dari sikap “membeli kucing dalam karung” tersebut. Mari pahami secara mendalam perusahaan dari saham yang kita beli agar terhindar dari situasi yang dapat merugikan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *