2 Pelajaran Investasi dari Krisis Finansial 2008-2009

2 Pelajaran Investasi dari Krisis Finansial 2008-2009

Tahun 2008-2009 adalah tahun yang kelam bagi investor di dunia. Dimulai dengan jatuhnya Lehman Brothers di bulan September 2008, Amerika Serikat masuk ke dalam krisis finansial. Sesuai dengan quote “when America sneezes, the world catches a cold”, krisis yang dialami AS tersebut berdampak ke seluruh dunia. Krisis ini menimulkan ketakutan di kalangan investor. Alhasil indeks saham di seluruh dunia jatuh secara signifikan.

Baru-baru ini saya membeli sebuah buku “Show Me The Money Book 3: Fighting Paralysis In A Market Meltdown And Other Curious Facts”. Si penulis buku ini (Teh Hooi Ling) merupakan senior editor dari The Business Times hingga tahun 2013. Buku ini berisi kumpulan artikel finansial & investasi yang diterbitkannya di masa-masa kelam 2008-2009. Karena buku ini diterbitkan tahun 2015, penulis pun menambahkan fakta-fakta terbaru yang didapat setelah masa itu di setiap artikelnya. Meskipun saya belum selesai membaca buku ini, tetapi berikut adalah 2 pelajaran investasi yang dapat saya share dari buku ini. Nantikan pelajaran lainnya di artikel mendatang!

1.  Betapa gelapnya masa depan di mata investor

Bagi anda yang telah memulai berinvestasi saham sebelum tahun 2009, anda pasti mengalami betapa gelapnya masa-masa krisis finansial itu. Setiap hari artikel-artikel di surat kabar menunjukkan gelapnya ekonomi dan indeks pasar saham pun jatuh terus menerus. Di buku ini juga ditunjukkan orang-orang memilih untuk memiliki uang mereka dalam bentuk cash di bank daripada menginvestasikannya di produk investasi apapun. Alhasil jumlah cash meningkat drastis melebihi nilai pasar saham secara keseluruhan.

Di tengah kegelapan ini, pastinya kita sebagai investor juga tergoda untuk mencairkan portfolio kita mengikuti tindakan orang banyak. Namun karena hal ini terjadi di masa lampau, kita dapat melihat apa yang terjadi jika seandainya kita tidak mencairkan posisi kita. Kita ambil contoh indeks harga saham Amerika Serikat S&P 500 di bawah ini yang mengikuti harga saham dari 500 saham terbesar di AS.     

Kita dapat lihat indeks jatuh dari poin 1500 ke kisaran 750. Namun, setelah krisis berlalu, indeks mampu bangkit dan mengalahkan poin tertinggi sebelumnya. Maka dari itu, di saat kegelapan ini, posisi di saham-saham yang baik sebaiknya patut dipertahankan, kecuali jika kondisi ekonomi anda juga tidak baik saat itu. Di sinilah mengapa kita dianjurkan untuk berinvestasi saham menggunakan uang yang tidak akan kita pakai selama 5 tahun ke depan dan jangan mencampur-adukkan emergency fund kita dengan uang untuk berinvestasi.

2. Pentingnya cash & reinvesting strategy

Tabel di bawah ini menunjukkan berapa persen harga saham anda harus naik agar portfolio anda bisa kembali ke nilai awal sebelum harga saham jatuh. Dalam skenario ini tidak ada modal baru yang dimasukkan ke pasar.

Drop Kenaikan agar modal kembali
-10% 11.10%
-20% 25%
-30% 42%
-40% 66%
-50% 100%
-60% 150%
-70% 233%
-80% 400%
-90% 900%
-100% Modal lenyap

Dalam tabel di bawah ini, skenario yang terjadi adalah setelah nilai portfolio jatuh, modal baru dengan nilai yang sama dengan modal awal ditambahkan ke pasar.

Modal Awal Drop Nilai Portfolio setelah drop Nilai portfolio setelah ditambah investasi baru Nilai portfolio dengan berbagai kenaikan
10% 30% 50% 100%
5000 -10% 4500 9500 10450 12350
5000 -20% 4000 9000 9900 11700
5000 -30% 3500 8500 9350 11050
5000 -40% 3000 8000 8800 10400
5000 -50% 2500 7500 8250 9750 11250 15000
5000 -60% 2000 7000 7700 9100 10500 14000
5000 -70% 1500 6500 7150 8450 9750 13000
5000 -80% 1000 6000 6600 7800 9000 12000
5000 -90% 500 5500 6050 7150 8250 11000

Di saat krisis finansial 2008-2009, indeks IHSG jatuh dari puncak ke poin terendah sekitar 54%. Jika kita hanya duduk diam, berdasarkan tabel pertama, kita membutuhkan indeks saham untuk rebound 100% atau 2x lipat. Sedangkan berdasarkan tabel kedua, dengan reinvesting strategy kita hanya butuh indeks saham untuk naik 30% agar total modal kita kembali. Disinilah kita melihat pentingnya menyiapkan cash di portfolio kita agar dapat digunakan untuk reinvesting strategy ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *