3 Pertanyaan Penting Sebelum Berinvestasi di DPLK

3 Pertanyaan Penting Sebelum Berinvestasi di DPLK

Beberapa waktu lalu ketika saya berada di Jakarta, saya mengunjungi kembali sekolah saya untuk bertemu dengan bapak ibu guru yang dulu mengajar saya. Saat itu, kebetulan guru-guru sedang mengisi sebuah formulir. Saya pun penasaran dan mengintip isi formulir tersebut. Ternyata itu adalah formulir pendaftaran untuk dana pensiun dari sebuah bank di Indonesia. Intinya, setiap bulan gaji dari para guru akan dipotong dan disimpan sebagai tabungan yang dapat diambil setelah mereka pensiun. Anehnya, semua guru yang saya lihat mengosongkan bagian formulir yang menanyakan bagaimana uang pensiun itu mau diinvestasikan, berapa persen mau diinvestasikan di saham, pasar uang dan pasar utang/obligasi/pendapatan tetap. Saya pun bertanya, “Koq, bagian ini gak diisi, pak?”. Pak guru pun menjawab “Saya kurang mengerti, biarkan saja orang yayasan yang mengiisi”.

Belum lama ini, kami pun menerima pertanyaan dari salah satu pembaca sahabatinvestor.com mengenai Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Singkatnya, sahabat investor ini sedang memikirkan untuk memindahkan uangnya dari DPLK saham ke DPLK pasar uang dikarenakan uang investasinya tidak terlihat berkembang selama 3 bulan terakhir, bahkan turun terpotong biaya admin.

Berikut ini adalah 3 pertanyaan penting sebelum Anda berinvestasi di DPLK!

dplk

1. Kapan Anda berencana untuk pensiun?

Peraturan sederhananya seperti ini, semakin lama waktu yang anda miliki sebelum anda pensiun dan mencairkan dana pensiun ini, semakin besar porsi uang yang dapat anda masukkan ke saham. Logika di balik peraturan ini adalah tingkat volatilitas dari ketiga pasar di atas. Pasar saham memiliki volatilitas paling tinggi dari pendapatan tetap/pasar utang. Namun, di sisi lain saham memberikan potensi return yang paling tinggi

Potensi Retun & Volatilitas

Jika anda berencana pensiun 5 tahun dari sekarang, sangatlah beresiko jika anda menginvestasikan uang yang anda punya untuk keperluan pensiun di pasar saham. Karena seperti kita ketahui hampir setiap 5 tahun sekali pasar saham mengalami ‘crash’.

2. Seberapa besar toleransi resiko Anda?

Kalau begitu, apakah semua orang yang masih muda disarankan menabung dana pensiunnya di DPLK saham? Tidak. Anda harus menanyakan pertanyaan kedua di atas, seberapa kuat jantung anda ketika anda melihat uang anda pada suatu saat turun lebih dari 5%? 10%? 20%? Semakin kuat anda menghadapi situasi tersebut berarti anda memiliki toleransi resiko yang semakin besar. Sebaliknya, jika penurunan nilai 5% saja membuat hati anda cemas, berarti toleransi resiko anda kecil dan anda sebaiknya menaruh dana anda di DPLK pendapatan tetap dan pasar uang.

3. Seberapa baik kinerja pengelola DPLK?

Setelah anda mengetahui kebutuhan anda dan mengenal diri anda, sekarang barulah kita memilih pengelola DPLK mana yang pantas dipercayai untuk mengelola dana pensiun kita. Pastikan biaya administrasi dan switching cost dari si pengelola rendah dan pengelola memiliki reputasi kinerja yang baik. Switching cost penting dikarenakan semakin dekat anda mencapai usia pensiun, anda pun sebaiknya mengubah persentase dana pensiun anda sesuai dengan jabaran di pertanyaan no 1. Sekilas saya melihat beberapa brosur dari pengelola DPLK, tampaknya mereka tidak mencantumkan past record dari pengelolaan DPLK mereka. Lalu bagaimana kita bisa membandingkan kinerja pengelola? Salah satu cara yaitu dengan membandingkan kinerja pengelola di bidang reksadana. Karena mayoritas pengelola DPLK adalah perusahaan asuransi dan bank. Mereka pasti memiliki produk reksadana dan mereka wajib mencantumkan past record mereka di brosur reksadana tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *