Pelajaran Investasi dari Memasak Nasi

Pelajaran Investasi dari Memasak Nasi

Sekarang, memasak nasi bukan lagi hal yang asing dan sulit bagi saya. Tetapi dulu, ketika saya mengikuti perkemahan pramuka di kelas 6 SD, itulah saat pertama kali saya harus memasak nasi sendiri tanpa rice cooker. Khawatir anaknya akan kelaparan, mama saya pun mengajari cara memasak nasi dengan teknik aron di hari sebelumnya. Beras harus dicuci dulu untuk menghilangkan kotoran yang mungkin ada, direndam air, lalu dioseng-oseng di atas kuali dengan api kecil hingga air meresap ke dalam beras. Kemudian, nasi aron tersebut dimasukkan ke dalam kukusan dan ditunggu hingga menjadi nasi siap makan.

Di hari ‘H’ saya pun mengikuti setiap langkah yang telah diajarkan oleh mama saya. Namun di langkah terakhir ketika nasi itu dikukus, sebagai seorang pemula yang masih kurang percaya diri, saya melakukan kesalahan besar yaitu terus membuka dan mengecek apakah nasi yang saya kukus sudah matang. Alhasil, saya dan teman satu grup saya harus memakan nasi yang kurang begitu matang.

Lalu apa hubungan antara pengalaman memasak nasi ini dengan berinvestasi? Ketika kita berinvestasi, kita pun memiliki step by step proses yang harus kita lakukan, dari menyaring saham-saham yang kurang baik, meneliti secara mendalam saham-saham yang bagus, menentukan harga beli yang tepat bagi kita, hingga mengklik tombol ‘buy’ dari platform trading saham kita. Setelah itu, kita tinggal duduk tenang dan sabar menikmati dividen dan perkembangan perusahaan tersebut. Sayangnya, banyak orang yang tidak sabar menunggu, mereka mengecek harga saham yang dibelinya setiap hari.

Warren Buffett pernah mengatakan bahwa: “Uang dihasilkan dari investasi dengan cara membeli dan memiliki perusahaan yang berkualitas dalam jangka waktu yang panjang. Jika kita membeli perusahaan berkualitas, kita akan baik-baik saja 10, 20, 30 tahun dari sekarang.” Kebiasaan mengecek harga saham setiap hari membuat kita lupa bahwa hal yang paling penting adalah fundamental perusahaan, bukan harga saham. Kita akan menjadi khawatir ketika harga turun dan buru-buru menjual ketika harga sedikit naik. Alhasil, investasi milik kita pun tidak akan menghasilkan profit yang sangat baik

Menunggu memanglah hal yang tidak mudah. Namun marilah mulai sekarang, daripada mengecek harga saham setiap hari, lebih baik kita mengecek laporan keuangan perusahaan di setiap kuartal. Dengan demikian kita menjadi fokus pada hal yang jauh lebih penting, yaitu kesehatan fundamental perusahaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *