Salahkah Saya Menolak Berinvestasi di Reksadana 5 Tahun Lalu?

Salahkah Saya Menolak Berinvestasi di Reksadana 5 Tahun Lalu?

Perjalanan investasi saya di pasar saham sebetulnya berawal dari sebuah kejadian yang terjadi di tahun 2012. Tak terasa hampir 5 tahun telah berlalu. Di artikel kali ini saya mencoba melihat ke belakang dan menilai apakah keputusan saya 5 tahun lalu untuk belajar dan berinvestasi sendiri di pasar saham merupakan keputusan yang tepat bagi saya atau tidak. Semoga para pembaca sahabat investor dapat memetik pelajaran berharga dari refleksi saya ini.

Sekitar bulan Oktober 2012, saya dihubungi oleh seorang independent financial adviser (penasehat finansial independen: mereka dapat menawarkan produk dari berbagai perusahaan asuransi, tidak hanya satu) untuk melakukan analisa keuangan saya sekaligus menawarkan produk finansial. Saat itu saya baru beberapa bulan lulus dari universitas dan mulai bekerja di perusahaan swasta di Singapura. Hal ini tergolong wajar karena mayoritas anak muda yang baru mulai bekerja belum memiliki asuransi kesehatan yang cukup dan juga tertarik untuk menginvestasikan uang hasil kerjanya untuk keperluan masa depan.

Di akhir pertemuan itu, si adviser menganjurkan saya untuk membeli asuransi rumah sakit dan juga produk investasi reksadana dari AXA dan memberi saya waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Dari pertemuan dengan adviser tersebut, saya sadar akan banyak hal, termasuk seberapa minimnya pengetahuan saya dalam dunia finansial. Maka dari itu, saya pun mengambil kelas berdurasi 1 hari tentang cara berinvestasi di reksadana. Di akhir kelas tersebut saya menceritakan alasan saya ikut kelas tersebut kepada trainer kelas tersebut. Trainer tersebut mengatakan bahwa melihat usia saya yang masih muda dan ketertarikan saya untuk mengingkatkan kecerdasan finansial, lebih baik saya menolak berinvestasi di reksadana tersebut dan belajar lebih mendalam terlebih dahulu mengenai berbagai jenis produk investasi yang ada. Karena menurutnya reksadana bukanlah produk investasi yang terbaik dan sesuai untuk saya. Saya pun akhirnya mendengarkan nasehat dari trainer itu dan hanya membeli produk asuransi dari si financial adviser.

Kejadian inilah yang menjadi titik awal perjalanan saya meningkatkan kecerdasan finansial dengan mengikuti kelas investasi, seminar dan membaca buku-buku investasi. Di tahun 2013, saya pertama kali masuk ke dunia pasar modal dengan membeli ETF dan di tahun yang sama saya membeli saham pertama saya.

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan email mengenai laporan performance dari produk reksadana AXA Pulsar yang dulu saya tolak (klik disini). Karena penasaran saya pun mencari tahu berapa persen sih yang saya dapatkan jika waktu itu saya memutuskan untuk membeli produk tersebut. Berikut ini adalah pembagian portofolio yang dianjurkan oleh financial adviser saya. Karena belum genap 5 tahun, mari kita menggunakan performance 3 tahun yang tercantum:

Fund Percentage 3 years performance (CAGR)
Henderson Gartmore Latin American 15% -7.82%
Pictet Asian local currency debt 10% 0.21%
Schroders Singapore Trust 15% 0.76%
Schroders Asian Growth Trust 20% 6.29%
Franklin US Small Mid Cap 20% 1.66%
Templeton Global Total Return Bond 20% 0.13%
Total portfolio performance 100% 0.57800%

Sebagai ilustrasi dari 0.578% CAGR 3 years performance, jika 3 tahun yang lalu saya berinvestasi 10 juta rupiah, saat ini uang saya hanya bertambah Rp 174.400. Jika dibandingkan dengan inflasi rata-rata di Singapura yang sebesar 2-3%, berarti saya mengalami kerugian 1.4-2.5% per tahunnya. Sementara, rata-rata dividend yield dari portofolio saya saat ini saja mencapai 4% per tahun. Belum lagi ditambah realized dan unrealized gain yang saya dapatkan.

Tentu saja perbandingan ini mengabaikan banyak faktor seperti peluang untuk mengganti fund reksadana (switching fund), uang yang saya habiskan untuk belajar berinvestasi dan lain-lain. Tetapi, benefit utama yang saya lihat dari keputusan saya 5 tahun lalu adalah dengan pengetahuan finansial yang saya dapatkan, saya memiliki kuasa penuh terhadap uang yang saya miliki dibandingkan dengan berinvestasi reksadana dimana kita menyerahkan kuasa uang kita dan nasibnya kepada fund manager. Karena DIY, kita pun bisa menghemat uang dari berbagai macam fee/biaya yang lebih mahal jika kita menggunakan jasa orang lain. Kesimpulannya, salahkah saya menolak berinvestasi di reksadana 5 tahun lalu? Menurut saya itu adalah keputusan yang tepat 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *